Translate

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
Seno Gumira Ajidarma,
Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Cari Blog Ini

Jumat, 28 Agustus 2015

Z

Sebuah percakapan dalam fragmen jendela dengan sebuah foto. Ada sepasang wanita dengan laki-laki (lelaki). Sebut saja mereka K dan Z. Mereka adalah teman sepermainan, teman sedari kecil yang mana ke mana-mana dulu selalu bersama. Sekarang mereka telah menempuh hidupnya masing-masing. Jalan hidup mereka sangat berbeda.
Sore itu, K sedang menanyakan kepada Z, "apakah dahulu pernah ada wanita yang singgah ke dalam hatinya." Dan Z berkata, ya pernah dan pasti pernah. "Apakah dia suka mengumbar janji." kataku. Ia nampak ragu dengan jawaban yang akan dilontarkannya, "ya, memang. Pertama menjalin kasih kami seperti para ketua partai yang mengobral ribuan kata untuk tetap mempertahankannya. Jadi, jika dilihat tidak terkesan jelek, dalam artian, kemarin jadian sekarang putus. Tapi, toh lama-lama akan bosan juga dnegan misinya dan pasti akan lupa. Yang diucapkan dulu itu seperti janji di atas tisu putih, yang mana apabila terkena air pastilah akan hancur, baik bahannya dan tulisannya. Jadi, hancur itu, bisa dari hubungannya dan bisa juga ucapannya. Luluh seperti tisu yang sudah menjadi lem ketika dicampur degan lem kanji.
Dia terdiam sejenak, menyulut rokok yang ada di depannya dengan  korek api. menghembuskan asapnya sehingga menjadi bulatan, dan ia kembali bercerita. "Nah, seperti lingkaran ini, ia sangat bagus dan terlihat rapi dan cantik. Ketika ia tertiup angin, buhh" Z menyebulkan nafasnya.
"Ia akan berceceran ke mana-mana. Janji kurang lebih seperti itu. Jika pasangan sudah merasa jera atau jebuh, pastilah lupa dengan semua yang ia ucapkan dahulu.

Sabtu, 20 Juni 2015

Inilah Kenapa Aku Berhenti



"Aku akan berhenti menulis." Kata Salya kepada kakaknya.
"Kenapa? kau sudah bosan atau kurang bacaan?" Jawab Kakak.
"Aku tak akan bersaing dengan temanku, aku tak bisa. Selalu saja tulisanku jelek ketika dia mendapatkan banyak pujian. Aku ingin berhenti, lelah rasanya, menjadi orang lain untuk menuturkan apa yang tidak aku alami. Aku bukan semacam Tuhan yang menitahkan beberapa petuah kepada umatnya, yang mana seperti orang-orang di luar sana, mereka menyembah, mengagungkan tulisan mereka ataupun tulisan orang lain, yang menurut mereka bagus. Dan mereka menganggap beberapa penulis adalah tukang guna-guna, yang meramal apa yang akan terjadi dikemudian hari, padahal pedoman mereka hanyalah satu, kitab dan pengetahuan, yang sebelumnya sudah dititahkan Tuhan kepada umatnya untuk menbaca kitab.
Seperti halnya sebuah tulisan, aku hanyalah sebuah lisan yang mampu mengubah pribadi seseorang menjadi anggapan nihil mengenai Maya. Dia memang wanita yang hebat, menanggalkan kalender setiap hari dan memberinya satu nama laki-laki pada setaiap tanggal yang pernah dilaluinya. Dia pernah mencinta untuk melahirkan bunga mawar pada hati seorang laki-laki keturunan sunda. Menjaganya selama tiga tahun dan membiarkan bunga itu mekar seperti merpati yang terbang dengan keelokannya. Namun, pada saat bunga tersebut tersenyum karena ada anggrek sebagai parasit, mawar itu meredup. Parasit itu lebih kuat mencekat kerongkogannya. Membuatnya pingsan yang berujung dengan maut.

Itulah beberapa sebab mengapa aku ingin berhenti menulis. Karena tulisan yang sebenarnya membuat perkara, lisan tak mampu berucap demi pembelaan. Aku ingin menutup beberapa lembar kehidupanku sejenak, meninggalkan kertas dan pensil, menggantinya dengan sebuah pot. Aku ingin membenihkan mawar perwarna putih. Mawar yang suci, sebagai wujud keikhlasan hati. Dan aku meninggalkan segala bebanku dalam menulis. Aku akan kubur beberapa kenanganku bersama seseorang. Dan tulisan ini, akhir di mana aku menulis untuk beberapa saat hingga aku mampu memberiksan saru kepada mawarku, entah itu kapan. Yang pasti, akan berjalan sangat lambat dan memakan waktu. Meski aku benci menunggu, inilah kesabaran, mawar putih yang kunanti, kuharap tetap menjadi putih, bukan menguning."

Kamis, 18 Juni 2015

MAYA


Aku pulang bekerja, menanggalkan baju dan celanaku. Menggantinya dengan yang baru, yang lebih kece menurutku. Dress warna abu-abu, seperti yang dikenakan anak mantri di televisi siang tadi. Namanya Maya, ia anak mantri yang dipuja oleh banyak lelaki kampungku. Kata mereka, Maya itu jos! Jos apanya? pandanganku berputar-putar seperti naik becak keliling kota Jogja. Dasar laki-laki, lihat badan semok sedikit lalu bergetar badannya, seakan melihat bidadari. Tidak hanya bidadari, aku yang lebih cantik dari Maya saja tidak pernah diliriknya. Aku juga tidak meminta untuk dilirik. Kesal ketika semuanya pernah meliriknya, terutama suamiku, yang mana ia dulu sempat tergila-gila akan kemolekan Maya. Katanya begini, “Maya memang seperti yang dikatakan orang, ia adalah dunia, ya dunia Maya, yang berarti ia hanya alat atau sarana pemuasan untuk para lelaki menyegarkan pikiran mereka yang bertumpuk dengan hutang.”
Setelah kuyakinkan ia tidak memuja dan berhubungan dengan Maya, aku menerimanya dengan banyak ganjalan hati. Karena aku takut, ia akan kembali memujanya ketika aku dirasa tidak sebanding dengannya. Yang aku tahu, Maya itu multitalent, ia seorang ahli farmasi yang menetap di Jawa Tengah, anak seorang mantri, dan bercita-cita mendirikan apotik dengan nama suamiku, Budi Waras. Aku berpikiran, ia pernah suka juga dengan suamiku, mungkin saat suamiku suka, ia tidak suka, seperti kata orang Jawa, karma yang akan berbalik kepadanya. Kemudian Maya tergila-gila dengan suamiku,sampai sekarang masih berharap bahwa suamiku akan sehat kembali dan mencintai dia. Anjir. Tidak, jika mana iya, aku tak tahhu aku jadi tempe bakar apa gembus sukaannya itu. Selain itu, ia adalah mantan model yang menang tingkat provinsi dalam pemilihan putri cantik. 
Kulepas dress warna abu-abu, aku tidak ingin sama dengannya, meski dress ini adalah kado pernikahan kami yang pertama. Aku memang banyak kekurangan, namun, aku juga setidaknya punya kelebihan. Merasakan getir dalam hidupku yang semakin  pahit karena asam telah tercampur dengan basa, itu kelebihannya yang berharap untuk berkurang dari waktu ke waktu. Aku menatap sebuah cermin, aku lihat polesan warna yang menyapu parasku. Tidak terlihat begitu menor, karena warnanya sudah sedikit kering. Aku tambahkan polesannya. Warna merah menyala, yang menambah karisma. Petuah dari Ibuku dulu, pakailah riasan yang setidaknya menyenangkan suamimu, setidaknya dia tidak malu membawamu ke mana-mana, agar suamimu tidak kalah dengan mantan-mantannya dulu.


Aku yang sedang menyendiri

Kehidupan memang kelam, kata seorang pemuda dengan tubuh yang tegap dan dada rata.

Ketika semuanya telah berubah menjadi sebuah diorama sebuah pertunjukan, aku dipertontonkan untuk menyenangkan hati setiap orang di sekitarku, meski aku jarang merasakan bahagia. Mereka semua, baik aku kenal maupun tidak aku kenal, namun mereka mengenalku. Sore itu, sebelum pentas kecil kegiatankuliah kami, awalnya aku hanya disuruh untuk membelikan sebuah koran dan jagung manis rebus, serta susu murni yang belum masak. Aku berjalan dengan semangat, karena peranku sebagai pembantu artistik sangatlah keren menurutku. Intinya, mendapat sebuah peran atau pekerjaan yang setidaknya dibutuhkan dalam kegiatan kelompok, aku sangatlah bangga, karena aku tidak pernah merasakan sebelumnya, setelah terakhir aku menjadi badut kuda poni dalam acara wisuda kakak kelas.
-bersambung. 

Rabu, 17 Juni 2015

Anak Kecil

"Kau pernah bermimpi?" tanya seorang anak kecil kepadaku.
"Ya. tentu. Kenapa kau menanyakannya?" jawabku.
"Karena aku ingin tahu, untuk apa kita bermimpi. Dalam mimpiku selalu indah, kenapa realitanya tidak? Aku selalu dibohongi oleh teman-teman, pacar, dan orangtuaku. Padahal dalam mimpiku mereka sangat sayang kepadaku. mengajakku ke mana-mana, hingga aku tak sadar bahwa aku nyaman bersama mereka. Dan pantaskah aku, ketika aku merasa kehilangan mereka, pada saat mereka tak ada di depanku beberapa detik untuk hidupku?
Aku sering mendapat hujatan manja dari semua orang. AKu hanya butuh kasih sayang dari mereka. Apapun untuk mereka aku lakukan untuk yang terbaik, tapi mereka selalu membohongiku. Seakan aku adalah biduk kecil yang selalu dipaka untuk mendayung, tapi mereka tidak memperhatikan hatiku ini ang sedang rapuh. Aku sedih."
"Kamu berhak merasakan sedih, untuk hal apapun ketika kamu tidak mendapatkannya. Tapi apa kamu tahu benar mereka membohongimu?"
"Ya. Tentu aku tahu. Banyak mata-mata kucing yang mampu menghampirkan pikirannya untukku. Mereka lebih menyayangiku dari apapun, terlebih orangtuaku." Jawab anak kecil itu dengan sesenggukan.
Air mata yang awalnya dibendung, mengalir dengan derasnya. Membasahi baju hijau yang dipakainya, membuat lingkaran ingus pada  jilbabnya. Hari sudah berjalan begitu pelan, seakan waktu  adalah milik anak kecil ini untuk mencurahkan perasaannya. Semilir angin membuatku bertambah dingin karena hari ini aku sedang kurang enak badan.
Percakapan itu diakhiri pukul enam sore ketika layung kuning sudah turun menjemput malam. TAk terasa dua jam aku terduduk di pinggir lembah kampus dengan tenang mendengarkan anak itu bercerita. Dia memang masih kecil, yang dituntut untuk menjadi dewasa karena ia sudah tidak punya siapa-siapa. Hanya tinggal sepucuk surat wasiat dari orangtua yang isinya  meninggalkan rumah beserta hutang yang lebih besar daripada harga rumahnya.
Aku tersentuh karena cerita anak itu, sapu tangan kupu-kupu dari ibuku, kuberikan padanya untuk mengusap sebagian laranya. Dia sangat tertekan, terlebih dengan pamannya yang setiap hari datang untuk meminta jatah. Ya, memang pamannya seorang yang kurang sehat. Ia meminta tubuh anak kecil itu untuk ditiduri, jika tidak, rumah kecil peninggalan orangtuanya itu akan menjadi saksi bahwa kucing pernah disiksa oleh majikannya. Ia tak berani lapor kepada siapapun, kepada aparat pun sudah tidak bisa. Hanya setiap hari, setiap ia berkunjung ke sekolah menengah atasnya,selalu dipanggil guru BK dan ditanyai kenapa prestasinya menurun. Banyak sekali guru dan murid yang mau membantunya, bahkan salah satu gurunya, yang divonis mandul itu mau mengadopsinya. Namun, apa boleh buat, badan yang sudah kotor karena perbuatan seseorang menghantarkan rasa malu dan penyesalan saja jika ia bertemu banyak orang yang menyayanginya.

Selasa, 19 Mei 2015

Semoga, aku mampu membahagiakanmu, meski aku tidak tahu cara untuk bahagia.

Sabtu, 09 Mei 2015

Bunga Malam ini

Hari ini semua hitam. Pakaian, aksesoris, polesan wajah, hingga muka yang hampit menghitam. Tenda biru dipasang dan ujung jalan, terpampang bendera putih kecil diikat dengan pembatas jalan. Kami sedang berduka. Aroma mawar dan kembang kantil tercium hingga ke desa tetangga. Siapakah yang meninggal? Apakah dia orang yang spesial.
*
Bedug adzan subuh mulai ditabuh. Kokok ayam bersahutan, rindang pohon bergemerisik. Sapi dan kambing terdiam melongok ke arah rumah itu. Mereka turut berbela sungkawa atas kepergian seorang demonstran.
Gemelayut adzan seakan menjadi iring-iringan rombongan mobil mini bus, mengantarkan seorang jenazah yang sudah terbungkus dengan kain kafan putih. Katanya, dia mati di pertigaan UIN Jogja. Meski aku tidak tahu mana tempatnya, pastilah ia yang meninggal karena demo penurunan harga kebutuhan pokok. Biasanya tidak sericuh demo di depan kantor Gubernur Jakarta. Mengapa ini hingga meninggalkan korban? aneh.
Aku yang sedari tadi mematung di depan rumahku, melihat iring-iringan orang membawa bunga kematian itu. Bersama lintingan kertas dan tembakau, aku sulut dengan api dan asap berhembus. Asap rokok menjadi kabut yang menyelimuti keadaan bela sungkawa.
Orang-orang berbondong-bondong memasang tenda di depan rumah, memindahkan perkakas milik RT ke rumah si jenazah. Biasanya untuk persiapan memasak para Ibu-ibu yang bersuka cita. Ibu-ibu tak pernah bersedih ketika di dapur, meski ada diantara mereka adalah keluarga korban, namun pasti ia akan tertawa di dapur.Sama halnya Bapak-bapak yang menggenggam rokok dan menaburkan benih-benih guyonan.

Selasa, 21 April 2015

Laut

Bila malam, kisah ini akan bertambah semakin maalam. 
Aku berjalan dengan gontai menuju laut lepas. Keinginanku melepaskan semua masalah yang pernah ada. Memberikanku jawaban untuk berjalan menuju lautan lepas dengan kapal karam di sisi timur. Apakah hatiku dan jiwaku akan karam juga seperti kapal itu? mungkin.
Aku berjalan semakin ke pinggir menyentuh bibir air. Air laut menggelitik kakiku, ia berkata "cepatlah bermain dengan kami, kau tak akan pernah merasa sedih."
"Aku tidak sedih, aku hanya ingin berada di bibir kalian. Aku tidak ingin menikmati dada,punggung, ataupun kaki kalian, terlebih perut kalian." jawabku singkat.
"berarti aku bukan orang yang pemberani. katanya kau ingin melepaskan penat yang ada dalam jiwamu, mengapa tidak mau?"
"aku ingin sekali berlayar, namun aku takut kalian akan menghinaku kemudian menelanku. matilah aku."
*
Cicit burung camar mendekat di telinga. 

Minggu, 11 Januari 2015

Aku sedang menangis ayah

Aku sedang menangis ayah, rindu akan ceritamu tentang makna hidup. Aku kesepian, sendirian tanpa ada orang yang menyapaku. Hidupku seperti daun yang sudah kering. Rapuh ketika diinjak dan terbang ketika ditiup, serta menjadi sampah bagi orang sekitarku ketika aku disapu dari kampung ini. 

 

Aku terlunta terbawa oleh arus yang menyiksa. Aku kacau, aku hidup tanpa sebuah harapan untuk hidup. Nasib dan takdir adalah dua hal yang aku impikan dan aku nanti. Aku yakin, ayah bahagia tanpa bias kelam ketika ayah meninggalkanku.

 

Kehidupanku sangat sepi. Dipenghujung tahun dan dibuka kembali awal tahun dengan kebosanan. Adakah yang menurut ayah orang untuk menemaniku di kala siang ataupun malam. Apa ayah, ada? Tak salahkah engkau berucap. Selama ini aku sendiri, menari di atas perihnya ujian demi ujian hidupku. Aku sendiri, orang acuh kepadaku. Bagaimana ada orang yang mau menemaniku jika aku terus merasa kesendirian sudah mendasar pada hidupku.

 

Ayah, datangkah ia untuk menghibur? Tidak kata ayah? atau datangnya ia hanya untuk menemaniku diam membisu. Kalau begitu, aku akan tetap sendiri. Perih sekali hati ini ayah ketika aku memang harus hidup dengan kesendirian, bersama hujan, matahari dan udara yang kumal.

 

Minggu, 04 Januari 2015

Belum Terlambat Untuk Berkunjung; Kalibiru Kulon Progo

Salah satu panorama di Yogyakarta yang tidak ketinggalan yaitu Kalibiru. Meski objek wisata ini sudah terkenal sejak dua tahun lalu, namun belum ketinggalan ketika kamu datang pada tahun 2015 ini, karena tempat ini masih menjadi andalan orang-orang untuk berlibur. Panorama alam yang disuguhkan memberikan semilir angin di hati yang galau, yang tidak galau juga sangat boleh ke sini. Sekedar untuk mencicipi alam di ketinggian yang lumayan, hehe.

Jalan untuk menempuhnya pun tidak sangatlah susah, tinggal menempuh jalan jogja wates dan ikuti papan petunjuk arah waduk sermo. Oh ya, Kalibiru ini terdapat di atas waduk sermo. Jadi, melalui puncak Kalibiru ini kalian dapat melihat dengan jelas keindahan waduk sermo dan alam persawahan yang terbentang sangat luas. Jangan ketinggalan pula untuk menikmati permainan seperti flying fox. Meski panjang flying fox ini terbilang hanya pendek, tapi jerat-jerit pekik suara yang mencoba tetap saja ganas :D

Jika sudah cukup untuk menikmati panorama waduk sermo melalui puncak Kalibiru, cobalah untuk turun ke waduk sermo dan ambil arah kiri, putari waduk sermo dan ada sebuah dermaga, tepatnya di barat jembatan utama waduk sermo. Di dermaga ini masih sepi, hanya ada beberapa orang saja untuk memancing.  Jadi dapat dibilang waduk sermo tidak hanya diandalkan untuk irigasi ataupun pembangkit listrik, tapi juga sumber kehidupan untuk orang-orang yang lapar, seperti ikan. Di pinggir-pinggir waduk ini juga terdapat daratan kecil yang menjorok, biasanya ditanami rumput untuk makanan ternak, dan paling banyak tanaman ilalang atau orang desa sebut "Kolonjono".

Berliburlah kemari, hanya dengan perjalanan satu setengah jam dari pusat kota Jogja dan dengan tiket masuk Rp. 5.000,- kalian mampu mendapatkan keindahan alam di puncak dan menikmati keindahan waduk.





Jumat, 02 Januari 2015

Sesuatu hal yang ingin aku rindui. Kebahagiaan tiada henti. Hingga aku mampu berdiri dan menari.
Semakin hari hadirmu sepi, tanpa bayangan senja yang biasanya menghiburku dikala hati sedang kalut dan resah
Kini kita sibuk masing-masing, memikirkan dunia yang tak henti membuat tangis
Tangis di bulan Desember, berwarna dengan hitam dan merah
Senyap, sendiri.

Kamis, 01 Januari 2015

Tsabit

Apa kabarmu kawan?
Genap rasanya satu setengah tahun kita sama meninggalkan bangunan tua itu, yang kita sebut sekolah menengah kejuruan. Kita keluar penuh dengan rasa yang masing-masing dari kita berbeda. Rasa senang karena kita usai menempuh bangku siswa, rasa sedih ketika kita mengingat memorabilia persahabatan kita. Ingatkah engkau kawan, pertama kali aku berjumpa denganmu? sungguh, itu hal yang konyol.
Kita digariskan menempuh kelas yang sama waktu itu. Dari awal kita masuk, hingga akhir kita beranjak kaki meninggalkan sekolah. Namun, rasanya aku baru sebentar mengenalmu. Engkau, Tsalitsa Nurul Hikmah, Icha panggilanmu, panggilan siang, dan Lisa panggilan malammu.
Apakah engkau sehat?
Di mana kamu sekarang, terakhir aku berjalan di samping tempat kau bekerja, bangunan itu sudah berganti nama. Apa kamu pindah? Tak pernah engkau beri aku secuil kabar kembali setelah lama aku sok sibuk dengan kebiasaanku sekarang. Apa kamu jadi ke Jakarta.
Kawan, aku tuliskan sebuah cerita di mana kita pernah bersama.
Ingatkah engkau ketika kita jalan bersama. Masih dengan pakaian batik yang kita kenakan saat hari jumat. Ketika sekolah usai dan sama-sama memiliki rasa malas untuk pulang. Kita berjalan dengan dua kaki yang bertapak pada bus kaleng susu besar. Pergi ke sebuah tempat, berjalan-jalan tanpa menghiraukan lirikan orang-orang tentang parasmu yang menawan. Kawan, sadarkah engkau. Ketika kita berjalan-jalan, semua mata memandang. Mereka ingin bersemayam sejenak, meski engkau belum tahu mana yang baik dan mana yang berlagak sombong.
Cha, aku susah tuiskan semua tentang kita. Tapi, satu patah kata untukmu.
Saat matahari bersinar, terbayang sebuah kenangan yang tak terlupakan. Kala itu, engkau sedang termangu memandangi kertas ujianmu. Di mana, kala itu, kau tertunduk lesu. Memikirkan masalah yang berjibun datang kepadamu. Engkau diam, namun tetes air mata itu berlinang. Mengalihkan pandangan kawan-kawan kepadamu dan seraya berkata, "kamu baik-baik saja kan?" Engkau menghindar dari kerusuhan kelas, Mencari tempat sendiri dan engkau masih menitikkan air mata. Kesedihan itu terpancar membulat memeluk ragamu yang seperti lidi padi. Engkau sudah dewasa, namun engkau belum banyak pengalaman untuk menginjak lantai dansa.
Dan saat engkau pulang, kau berjalan dengan buram. Pandanganmu kabur dan tertunduk kembali wajahmu. Mengecewakan mereka yang ingin melihat parasmu. Engkau masuk dalam kaleng susu besar yang bertuliskan jalur bus 15. Headset engkau cantelkan dan suara kau keraskan, sembari cokelat pada tanganmu habis kau makan. Perlahan-lahan hingga kau tertidur hampir satu jam.
Kau terbangun, matamu melalak ke jalanan. Kau tidak tersesat Icha. Rumahmu hampir sampai. Melintasi sebuah Pondok terbesar di Jogja, menuju rumah bernomor 212. Di depan rumah, kau lihat Bunda menunggu dengan senyuman sembari menggendong putri kecil, Bulan sabit di depan mata, penutup rasa sesal dan kecewa.

Kamis, 18 Desember 2014

pengantin senja

kaca ini bergerak tiga kali. terkapar karena hujan, terkikis karena tangis. hujan menangisi awan, awan memberikan malam. malam memberikan tangis.
hujan malam ini bukan satu pertanda aku harus menangis. cukup dengan terdiam tanpa hati harus teriris. hatiku masih sehat. setelah didoakan dalam sebuah ritual pernikahan, meskipun bukan pernikahanku. aku sendiri tak tahu kapan aku menikah, umur seperempat abad, ataupun tiga puluh tahun menjelang aku beruban.
hujan ini tangis dari malaikat. yang menitipkan sebuah sayap kepada sang naib. akad itu, bunga itu, bahkan sesaji itu, semua adalah pralambang prosesi sudah dilaksanakan. inilah pengantin yang ada dalam ode kasta rendah. pengantin sebutan sepasang burung dara yang duduk berdampingan dalam sebuah kapal bahtera.
melihat seperti halnya mendengar sebuah kebahagiaan ataupun hanya sebuah hal yang sangat mudah untuk dilaksanakan. aku melihat dalam kehidupanku, melihat sebuah irama hati yang masih ragu. aku masih muda. aku tidak tahu mana yang akan aku sandang untuk gelarku kelak, istri atau almarhumah. aku ingin semua aku sandang, sebagai seorang istri yang mulia untuk suamiku kelak, dan almarhumah untuk hidupku yang entah kapan aku akan menyelesaikannya.

Kamis, 04 Desember 2014

dunia ini hanya tawa tuhan

hati berdesir begitu pelan,
air mata terkikis sangat enggan,
Tuhan, apakah ini jawaban
aku hanya rindu
 dan mendapat sebuah pelukan
Jika suatu saat nanti aku sudah terbaring,
aku ingin sekali esok terbaring
dalam balutan selimut yang tebal dan nafas tersenggal
aku tak tahu lagi arti hidup
semua fana, semua hanya klise
untuk menutupi kejanggalan tak terduga
apa arti air mata ini
hanya sekedar banjir air di atas pipi
hati nurani sudah tersenggol oleh tepian besi
dan kulit sudah kaku dalam kotak biru
hidup bukanlah sesuatu yang abadi
aku terkikis dalamdalam

Selasa, 02 Desember 2014

perlahan kita akan menemukan jalan untuk keluar dari lubang lima puluh centi ini. dengan apapun itu, merayap dan terus memegang tali, apapun selagi engkau tak akan jatuh dan terjungkal masuk lagi ke dalam lubang. tapi, apakah tali itu bisa digunakan untuk pergi dari lubang kehidupan yang menyebalkan?
Tuhan tak pernah tidur untuk mengurus umatnya, hanya saja mereka yang tak mau taat. ini bukan sindiran, tawa tuhan. aku merasakan, engkau harusnya juga. tersandar pada ranting pohon di atas lubang, dan kakiku masih dalam lubang. aku tak ingin jatuh kembali.

Minggu, 30 November 2014

satu

Langit malam ini mendung, dan barulah aku membaca beberapa kalimat dalam sebuah jurnal. Terdapat kalimat di mana terdiri dari enam kata yang di susun tanpa memperhatikan susunan sistematis di dalamnya. Dan baru saja, beberapa kepercayaan dan keyakinan pudar seperti tersiram oleh hujan dari tadi pagi. Awalnya aku biarkan itu hanya angin lalu, tapi setelah ditelisik ke bawah, itulah sebuah kunci dan jawaban.
Aku masih pemula, belum pandai dalam tataran ide maupun bentuk isi cerita. Meski berkali-kali mendapatkan mata pisau, untuk kali ini biarlah aku berhenti lagi untuk menulis. Karena yang dapat aku tulis, hanyalah sebuah ocehan tanpa makna, untukmu, untuk persahabatan, untuk penysalan apa yang telah aku tulis.
Semoga hujan malam ini, deras dan menderas. Agar air mata, mengalir dengan irama yang merdu tanpa sebal.

Kamis, 27 November 2014

Jalan Bertolak

karena tak selamanya cinta itu harus dibayar mati
ketika aku atau mungkin juga kamu
tanpa basa-basi, menginginkan kita pergi
menapaki kehidupan tanpa adanya kerling mata yang menyudut
berjalan tanpa bergandengan
dan kita sama-sama terdesak oleh amarah dalam raga
jangan bertanya kepada siapapun yang mendengarkannya
itu membuat hati semakin perih dan jauh
jauh dari kesenangan yang sudah kita prediksikan
biarlah kita berjalan sendiri,
tanpa ada batu loncatan, dan segenggam larutan waktu dalam kalbu

Senin, 24 November 2014

Cerita dalam Sebuah Pena

aku menginginkanmu, tanpa batas kertas buram yang menyatu dengan tinta ungu
aku ingin bersandar pada bahumu, tanpa aku harus tertatih untuk menggapai pundakmu
aku ingin memelukmu ketika hujan sudah tiada lagi pada aliran pipi merahku
bantu aku untuk berdiri...
aku tak ingin terjatuh sedemikian rupa,
hatiku akan kutata ulang, bantu aku membongkarnya hingga tak meninggalkan residu
hingga aku mampu bersamamu tanpa resah dalam keheningan malam tanpa bulan
walau rintik tetap membasahi, tapi aku yakin
warna merah yang telah engkau tetaskan pada rambutku
tak akan pudar walau terkena padatan debu
cinta ini terlalu jinak untuk diusap

Rabu, 29 Oktober 2014

Tempat Menghilang

Apa yang aku khawatirkan? Kenapa menjadi sebuah misteri yang berjamur?
Awalnya, sebuah kisah panjang aku rencanakan hingga detil. Aku tulis di kertas folioku bersampul dengan gambar yang kita ambil di pinggiran pantai waktu itu. Setiap hari aku buka lembaran itu, aku pandangi gambar-gambar yang aku cetak ukuran foto lamaran kerja, agar aku mudah menyimpannya diselipan kertas-kertas. Aku merasa senang, engkau yang tersenyum setiap waktu. Engkau yang ceria, menghapus semua kekecewaan dan kegelisahan. Namun, engkau tak mampu menutup rasa sendiriku.
Aku pergi meninggalkan rasa kesal dan kekecewaan, aku pergi di tengah keramaian. Mencari sebuah alasan yang membuat aku tampak tenang. Dulu, tempat yang aku sukai di jemabatan kebun binatang, tapi sekarang tempat itu dibongkar. Apa aku harus berteriak, jangan? Aku dapat diamankan aparat jika aku lakukan. Tata kota sudah menjadi tameng orang yang protes, orang yang tak mau perubahan, orang yang kecil dan lemah.
Aku berjalan, melihat sekitar, sekiranya aku mendapat ketenangan dan dapat aku tempuh dengan sepeda unguku. Hanya satu tempat, di mana aku dapat hilangkan semua dukaku. Lapangan hijau, jauh dari kota, namun itu pusat kota di sebuah kabupaten kecil. Tempatnya nyaman, banyak orang namun hanya berseliweran. Dan pandanganku dapat berubah menjadi tenang, daripada aku di rumah mendapat pertanyaan.
Ini bukan sebuah kebiasaan, hanya sebuah keinginan ketika aku sudah merasa sangat sendirian. Memandang orang sekitar ditemani patung gajah yang besar dan beringin yang rindang. Aku mampu hilangkan pikiran kusam.

Rabu, 01 Oktober 2014

seorang anak bercerita kepada ibunya, kenapa ia tak pernah merasakan lara.
"lara seperti apa nak yang kau pinta?" kata ibu.
 "lara yang bisa membuatku semakin terpendam ketika aku ada di bawah ibu.
aku tak pernah merasakan ketika aku sudah beranjak semakin tua, aku belum pernah merasakan. kenapa aku berbeda. hanya karena aku ingin merasakan kata sakit, haruskah aku menjelma menjadi orang lain, Ibu?''